Surprise Me!

Mik Proklamasi Hasil Curian dari Jepang? Ini Fakta Kemerdekaan yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

2026-08-16 7 0 202 YouTube

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM - Kita mengenal Proklamasi sebagai momen sakral ketika Soekarno membacakan pernyataan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Namun, di balik momen bersejarah itu, ternyata ada sejumlah cerita sederhana yang jarang disorot. Dari durasi pembacaan yang singkat, tiang bendera yang dibuat dadakan, hingga mikrofon dan mesin tik yang punya kisah tak biasa. 1. Proklamasi Hanya Sekira 1 Menit Pada pagi 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Jika hanya menghitung pembacaan teksnya, momen itu berlangsung kurang lebih satu menit. Tanpa panggung megah dan tanpa tata upacara seperti sekarang. Setelahnya, Merah Putih dikibarkan dan Indonesia Raya dinyanyikan. Singkat dan sederhana, tetapi mengubah sejarah Indonesia. 2. Tiang Bendera Dibuat Dadakan Bendera Merah Putih yang dijahit Fatmawati harus segera dikibarkan setelah Proklamasi dibacakan. Masalahnya, tempat itu belum memiliki tiang bendera khusus untuk upacara tersebut. Solusinya sederhana yakni hanya menggunakan bambu. Tiang bendera dibuat dari bambu yang kemudian digunakan untuk mengibarkan Merah Putih. Salah satu momen paling penting dalam sejarah Indonesia justru berlangsung dengan persiapan yang serba terbatas. Tidak ada fasilitas khusus seperti upacara kemerdekaan zaman sekarang, yang ada hanyalah improvisasi. 3. Mikrofon Hasil Curian dari Radio Jepang? Mikrofon atau pengeras suara memiliki peran penting saat Soekarno membacakan teks proklamasi. Menurut Soekarno, mikrofon itu merupakan hasil curian dari stasiun radio milik Jepang. Namun, apa yang dikatakan Soekarno dibantah Sudiro, mantan sekretaris pribadi Menteri Luar Negeri pertama RI Achmad Soebardjo. Sudiro yakin betul mikrofon itu bukan hasil curian. Ia mengatakan pemilik mikrofon itu adalah seorang WNI bernama Gunawan yang merupakan pemilik Radio Satriya. Gunawan pun mengakui bahwa mikrofon yang digunakan saat Proklamasi Kemerdekaan itu buatannya sendiri. Ia mengaku mikrofon itu dibuat ala kadarnya karena kondisi memang serba sulit. 4. Mesin Tik Pinjaman Perwira Nazi Jerman Setelah naskah tulisan tangan Soekarno selesai dirumuskan, muncul persoalan lain. Di rumah Laksamana Tadashi Maeda hanya tersedia mesin tik berhuruf kanji. Satzuki Mishima, pembantu Maeda, kemudian mencari mesin tik berhuruf Latin. Ia pergi ke kantor militer Jerman dan bertemu Mayor Kandelar, perwira Angkatan Laut Jerman. Mesin tik itu akhirnya dipinjam dan dibawa ke rumah Maeda untuk mengetik naskah Proklamasi. Jadi, di balik teks yang menjadi simbol kemerdekaan Indonesia, ada cerita tentang keterbatasan, pinjaman, bahkan perdebatan soal sebuah mikrofon. Proklamasi memang hanya dibacakan dalam hitungan menit. Tetapi proses menuju momen itu menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Program: Kemerdekaan Republik Indonesia Host: Maria Nanda Ayu Saputri Editor Video: Ni'amu Shoim Assari Alfani Uploader: