Surprise Me!

DEWASAIN: Ritual Adat Menanam Padi Petani Gondang Gangga Lombok Utara

2026-01-14 46 Dailymotion


ASLINEWS TV - Desa Gondang di Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, hingga kini masih memegang teguh tradisi tanam padi Dewasain. Tradisi yang telah hidup ratusan tahun ini bukan sekadar ritual pertanian, tetapi menjadi simbol kearifan lokal yang mengikat petani dengan alam, sejarah, dan nilai kebersamaan.

Setiap tanggal 1 Januari, seluruh petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Subak Pelopor Gondang berkumpul di tanah pecatu adat seluas kurang lebih 4 hektare.

Berpusat di Montong Dewa, prosesi Dewasain menjadi penanda dimulainya musim tanam padi secara serentak, sekaligus wujud penghormatan terhadap leluhur yang telah membuka peradaban pertanian di wilayah tersebut.

Pemerhati sejarah dan budaya, Samsul Muhyin, menjelaskan bahwa prosesi Dewasain berakar dari kisah Datu Muter dan Raden Jamar pada sekitar tahun 1200-an.

Keduanya mengemban amanat dari Datu Bayan untuk membuka lahan pertanian.

Setelah menjelajahi wilayah kekuasaan Kedatuan Bayan, mereka menemukan kawasan Gondang sebagai lokasi yang subur.

Tantangan terbesar kala itu adalah ketiadaan sumber air, hingga akhirnya dibuatlah Telabah atau Sungai Gondang sebagai jalur pengairan.

Dari aliran air inilah, lahan pertanian seluas sekitar 300 hektare berhasil dibuka dengan Montong Dewa sebagai episentrumnya.

Kepala Desa Gondang, Supriyadi, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Dewasain.

Ia berharap prosesi budaya ini terus dilaksanakan secara khidmat, dengan masyarakat mengenakan pakaian adat dan atribut budaya sebagai penegasan identitas lokal Desa Gondang.

Sementara itu, Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lombok Utara, Hamdani, menilai Dewasain memiliki fungsi strategis dalam sistem pertanian.

Selain sebagai warisan budaya, Dewasain membantu pengaturan pola tanam dan pembagian air agar lebih tertib. Penanaman padi secara serentak juga dinilai efektif untuk meminimalisir siklus hama pertanian.

Ketua P3A Subak Pelopor Gondang, Ahmad Rusmaidi, menegaskan bahwa para petani tidak diperkenankan menanam padi sebelum prosesi Dewasain dilaksanakan.

Aturan ini menjadi kesepakatan bersama demi menjaga keteraturan, keberlanjutan, dan nilai sakral tradisi.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Ahmad Rusmaidi berharap pemerintah daerah dapat lebih aktif mendidik petani milenial.

Tidak hanya melalui teknologi pertanian, tetapi juga dengan menanamkan kesadaran kepada generasi muda agar peduli pada pertanian dan mau merawat tradisi seperti Dewasain, yang telah terbukti menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya. (Aslinews TV)